Sabtu, 16 Juni 2012

Siapa Yang Bertanggung Jawab Mendidik Anak ?


Kewajiban orangtua mendidik anak bukan hanya ketika anak masih usia bayi hingga pra sekolah saja, sesungguhnya orangtua wajib mendidik anak sepanjang masa sesuai dengan kebutuhan anak tersebut.
Menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab mendidik anak kepada pihak sekolah ketika anak mulai bersekolah tentu keputusan yang kurang bijak. Di sekolah pada umumnya guru akan lebih fokus mengajarkan ilmu-ilmu akademis daripada pendidikan akhlak atau  budi pekerti. Hanya sedikit saja waktu guru di kelas mengajarkan anak mengenai akhlah, itu pun mungkin hanya pada saat anak menerima pelajaran tentang agama.
 Baik dan buruknya perilaku anak sangat tergantung pada bagaimana orangtuanya mendidik dan membesarkannya. Orangtua tidak dapat berharap anak-anaknya menjadi seseorang yang baik dan berbudi luhur hanya karena sudah menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal dan terkenal. Banyak sekali hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku dan emosi anak selama anak di sekolah. Pergaulan anak dengan teman-teman yang lainnya dapat berpengaruh terhadap perilakunya. Keterbatasan waktu dan banyaknya anak didik di sekolah menyebabkan guru tidak dapat fokus mendidik atau mengajarkan akhlak dan budi pekerti secara orang perorangan. Oleh karena itu, campur tangan orangtua dalam mendampingi, mengasuh dan mendidik anak sangatlah penting (Umi Munawaroh:2011). Orangtua harus peduli dan tanggap terhadap pendidikan anak terutama yang berhubungan dengan kebutuhan jiwanya, seperti menanamkan sifat jujur, disiplin, tanggung jawab, mengajarkan bagaimana mengelola emosi dan perasaannya, merasa dicintai dan disayangi. Dengan demikian anak akan faham mana yang benar dan mana yang salah, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Dengan pola asu yang baik, anak akan merasa tenang, senang dan percaya diri. Anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan penuh cinta, perhatian dan kasih sayang akan membuat anak mampu menyayangi dan mencintai orang-orang yang ada di sekitarnya.
 Pada dasarnya, pengasuhan dan pengawasan orangtua pada anak seperti sebuah saringan yang dapat memisakan sesuatu yang bermanfaat dengan yang tidak. (yer).

Beberapa Tips Agar Anak Aman Dari Game


·         Maksimalkan peran orangtua dalam memberikan bimbingan, arahan, teladan, dan pendampingan. Tanamkan nilai-nilai luhur agama agar menjadi tameng abadi bagi anak dalam menyikapi berbagai hal dalam kehidupan ini, termasuk dalam menyikapi game. Dampingi anak saat mereka bermain game, sesekali ikut juga bermain agar orangtua memiliki sedikit pengetahuan mengenai apa yang anak mainkan.
·         Tanamkan disiplin kepada anak. Buatkan jadwal kegiatan, dalam hal ini untuk mengatur waktu anak bermain game dan kegiatan lain. Libatkan anak untuk aktif di kegiatan lain selain bermain game, yang dapat berupa kegiatan sosial, olah raga, kesenian, dan sebagainya. Khusus untuk kegiatan bermain komputer, arahkan agar anak melakukan hal-hal yang kreatif (mencipta, menghasilkan karya), bukan hanya yang konsumtif (menggunakan karya orang lain, termasuk bermain game). Tantang dan bimbing anak agar dapat membuat game, tidak hanya bermain game. Jika orangtua tidak mampu melakukan ini, atau tidak punya waktu yang cukup, delegasikan kepada guru les atau tempat kursus yang cocok.  Dengan didasari kebijakan dan kasih sayang, lakukan metode “carrot and stick”: apresiasi saat anak kreatif, ingatkan, atau bahkan beri “sanksi yang bijak” saat mereka konsumtif, apalagi berlebihan.
·         Tempatkan komputer atau perangkat game di ruang keluarga, dan tidak di kamar pribadi anak. Tujuan utamanya adalah agar selalu ada keterbukaan di antara sesame anggota keluarga dan terciptanya situasi saling mengawasi secara positif.
·         Berikan pengertian kepada anak agar bergaul dengan teman-teman yang baik. Hindarkan anak dari pergaulan dengan rekan-rekannya yang pecandu game. [yr&yer]
      
    sumber : www.perkembangananak.com