·
Maksimalkan peran orangtua dalam memberikan
bimbingan, arahan, teladan, dan pendampingan. Tanamkan nilai-nilai luhur agama
agar menjadi tameng abadi bagi anak dalam menyikapi berbagai hal dalam
kehidupan ini, termasuk dalam menyikapi game. Dampingi anak saat mereka bermain
game, sesekali ikut juga bermain agar orangtua memiliki sedikit pengetahuan
mengenai apa yang anak mainkan.
·
Tanamkan disiplin kepada anak. Buatkan jadwal
kegiatan, dalam hal ini untuk mengatur waktu anak bermain game dan kegiatan
lain. Libatkan anak untuk aktif di kegiatan lain selain bermain game, yang
dapat berupa kegiatan sosial, olah raga, kesenian, dan sebagainya. Khusus untuk
kegiatan bermain komputer, arahkan agar anak melakukan hal-hal yang kreatif
(mencipta, menghasilkan karya), bukan hanya yang konsumtif (menggunakan karya
orang lain, termasuk bermain game). Tantang dan bimbing anak agar dapat membuat
game, tidak hanya bermain game. Jika orangtua tidak mampu melakukan ini, atau
tidak punya waktu yang cukup, delegasikan kepada guru les atau tempat kursus
yang cocok. Dengan didasari kebijakan dan kasih sayang, lakukan
metode “carrot and stick”: apresiasi saat anak kreatif, ingatkan, atau bahkan
beri “sanksi yang bijak” saat mereka konsumtif, apalagi berlebihan.
·
Tempatkan komputer atau perangkat game di ruang
keluarga, dan tidak di kamar pribadi anak. Tujuan utamanya adalah agar selalu
ada keterbukaan di antara sesame anggota keluarga dan terciptanya situasi
saling mengawasi secara positif.
·
Berikan pengertian kepada anak agar bergaul
dengan teman-teman yang baik. Hindarkan anak dari pergaulan dengan
rekan-rekannya yang pecandu game. [yr&yer]
sumber : www.perkembangananak.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar